Padang — Pecinta seni kembali akan disuguhi agenda budaya Festival Nan Jombang Tanggal 3 setelah libur Lebaran. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 3 April 2026 di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Kota Padang.
Pada edisi April 2026, panitia festival yang mendapat dukungan dari Bakti Budaya Djarum Foundation menghadirkan pertunjukan teater berjudul Nilonali Sang Puti Bungo Karang. Pementasan ini disutradarai Rafdisyam bersama Komunitas Seni Ku-Liek, Padang, setelah melewati proses kurasi penyelenggara.
Direktur Festival, Angga Mefri, mengatakan Festival Nan Jombang Tanggal 3 merupakan program utama Nan Jombang Dance Company yang mulai berjalan sejak 2013 dan rutin digelar setiap tanggal 3 setiap bulannya.
“Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2013 hingga kini memasuki tahun ke-13, festival ini terus berjalan secara konsisten tanpa terputus. Ratusan seniman sudah tampil di Ladang Tari ini. Pada April 2026, kami menghadirkan Komunitas Seni Ku-Liek dengan pertunjukan Nilonali Sang Puti Bungo Karang,” ujar Angga Mefri, Kamis (2/4/2026).
Selain pertunjukan utama, festival tersebut juga menghadirkan Diskusi Apresiasi usai pementasan. Kegiatan itu dikemas dalam format dialog santai antara seniman dan penonton untuk memperluas pemahaman publik terhadap karya seni yang ditampilkan.
Menurut Angga, dalam sesi diskusi tersebut pengkarya akan menjelaskan ide, proses kreatif, hingga konsep penciptaan karya. Diskusi akan berlangsung di Medan Nan Bapaneh, Ladang Tari Nan Jombang, dengan moderator Nasrul Azwar.
Sementara itu, sutradara sekaligus penulis naskah, Rafdisyam, menjelaskan karya yang dipentaskan merupakan dekonstruksi dari naskah Nilonali karya Wisran Hadi dengan pendekatan ekokritik.
Rafdisyam mengungkapkan, proses kreatif dilakukan dengan membaca ulang manuskrip Nilonali karya Wisran Hadi, kemudian mengembangkannya menjadi Nilonali Sang Puti Bungo Karang melalui pendekatan ekokritik. Proses tersebut juga dibarengi diskusi intensif bersama tim Komunitas Seni Ku-Liek.
Tafsir Ekologis “Nilonali”
Secara tematik, Nilonali Sang Puti Bungo Karang berkisah tentang sosok Puti Bungo Karang yang berubah menjadi Nilonali, figur yang dianggap masyarakat sebagai penyebab bencana. Padahal, tokoh tersebut menjadi simbol alam yang menunggu kesadaran manusia untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Pementasan ini menghadirkan kritik terhadap hubungan manusia dengan alam. Dalam cerita, Nilonali digambarkan sebagai representasi suara alam yang lama terbungkam dan berpotensi menghadirkan kehancuran ketika keseimbangan alam dilanggar.
Konflik dalam pertunjukan diperlihatkan melalui tokoh Pawang yang melambangkan kepemimpinan manipulatif, disertai kehadiran kelompok masyarakat marjinal, masyarakat modern, hingga simbol perempuan dan alam yang mengalami eksploitasi.
Konsep Artistik
Dari sisi artistik, pertunjukan mengedepankan konsep ekologis. Tata rias dan kostum memanfaatkan material daur ulang, sedangkan properti panggung dibuat dari limbah kayu laut, pasir, serta material bekas banjir.
Pementasan dibagi ke dalam tiga bagian utama, yakni konflik awal yang menggambarkan ketegangan antara manusia dan alam, bagian klimaks berupa bencana serta perdebatan yang berakhir dengan kematian Pawang, hingga resolusi yang menempatkan Nilonali sebagai simbol kesadaran baru.
Pada penutup cerita, Nilonali digambarkan tidak lagi sekadar menanti, tetapi mulai bergerak mencari “Kinanti” sebagai metafora harapan dan kesadaran manusia terhadap alam.
Lewat pendekatan visual, gerak, dan simbolik, pertunjukan ini tidak hanya menawarkan pengalaman artistik, tetapi juga menghadirkan refleksi kritis mengenai pihak yang sebenarnya menjadi penyebab bencana, apakah alam atau manusia sendiri.
Last modified: 14 Mei 2026